"tolong rindukan aku, beberapa detik saja dalam hidupmu"
**********
Aku membuka mata, kepalaku agak sedikit pusing. separuh ruangan ini juga terasa asing. Terlalu banyak dekorasi berwarna putih. Aku memandang ke sekeliling ruangan, hingga akhirnya terhenti pada sosok wanita yang tersenyum kecil, rambut sedikit ikal terurai, dan lesung pipit di kedua pipinya saat ia tersenyum. butuh waktu yang agak lama untuk bisa mengenali wanita tersebut, mungkin karena efek kepala yang masih terasa pusing.
“hei..kau sudah sadar? Sukurlah” wanita tersebut berbicara dengan wajah yang terlihat sangat bergembira. Ya, dan aku pun segera menyadari kalau sosok wanita yang sedang berbicara kepadaku adalah Aurin, sahabatku sendiri.
“hmm dimana aku?” hanya itu kata yang bisa meluncur dari mulutku.
“kau di rumah sakit, tadi kau pingsan. Semua orang panik dan akhirnya membawamu kesini. Tapi, syukurlah kau sudah siuman”
“tapi, bukankah tadi aku baik-baik saja?”
Aku bangkit dari rebahan, terlalu lelah rasanya terlentang berjam-jam. Aurin mendekatkan tubuhnya, tangannya yang hangat dan halus menempel di tangan serta punggungku. Ia membantuku bersandar di ujung ranjang.
“kau kelelahan , harusnya jangan kau paksakan kondisi tubuhmu, aku khawatir, aku cemas” perkataan Aurin meluncur dengan penuh perhatian. Aku sendiri menyadari bahwa tubuhku sangat lemah, entah kenapa akhir-akhir ini sering terasa lemas dan kepalaku pusing. Sudah dua kali dalam seminggu ini aku jatuh pingsan, aku merasa kekuatan fisikku semakin menurun, tapi anehnya ketika aku menanyakan kepada dokter, dia bilang kalau aku baik-baik saja. Dia bilang aku hanya kelelahan dan typus ku kambuh.
“ben, kau masih merasa pusing?” Aurin memegang tanganku, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap. Tangan halus Aurin sejujurnya sangat membuatku nyaman. Tapi, Aku harus melepas genggaman tangannya. Terlihat sekali dia kaget dan kecewa, tapi, bukankah aku sudah sering mengecawakannya. Aku sering membuat hatinya terluka. Aku tahu bagaimana perasaannya terhadapku, perasaan lebih dari sekedar teman. Tatapan matanya, menunjukan bahwa ada suatu perhatian lebih terhadapku. Tapi, kenapa harus kepadaku? Kenapa bukan kepada orang lain saja. Bukankah masih banyak pria baik yang lebih layak dia cintai. Sedangkan aku, aku tidak bisa menerimanya, aku masih menantikan bidadari ku, yang aku yakin akan kutemukan suatu hari nanti. Sejujurnya, ingin sekali aku katakan hal itu kepadanya, tapi saat melihat kedua matanya, aku menjadi lemah. Matanya berkaca-kaca, sayu dan sangat menenangkan. Membuatku tidak sanggup untuk menyakitinya dengan mengatakan hal tersebut.
“aku baik-baik saja, kau tidak perlu menghawatirkanku” aku menjawab lirih.
“syukurlah”
******
Sebenarnya, bukan Aurin lah sosok yang aku inginkan untuk menemani saat aku terbaring tak berdaya. Ada sosok lain yang kurindukan,