Sore begitu mendung, langit seolah membentuk lingkaran muram. Mereka seolah tahu akan ada perpisahan hari ini. Dibawah langit senja, dihadapan kereta terakhir menuju jakarta.
“kau sudah memeriksa semua barang-barangmu?” Vallin membuka satu per satu isi tasku. Terlihat sekali ia begitu teliti, seperti tak ingin ada satu barang pun yang ingin aku tingggalkan. Untuk hal-hal seperti ini, kekasih hatiku ini memang jagonya. Ia selalu mempersiapkan sesuatunya dengan rapih.
“sudah, kau tak perlu aku khawatir. Aku sudah mempersiapkannya, tak ada satu pun yang tertinggal” aku tersenyum, kemudian menarik tubuhnya kehadapanku.
“jadi, kapan kau akan kembali? Berapa lama kau di jakarta? Apa kau akan merindukanku selama disana? Apa......”
Aku menarik tubuhnya kedalam pelukanku, mencium keningnya, membiarkan deru nafas kami beradu. Menghentikan semua pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Untuk sejenak, kami terdiam. Menikmati dekapan-dekapan hangat.
“kau tahu.. bahkan hingga nafas terakhirku pun aku akan selalu merindukanmu” aku melepaskan pelukan, menatap wajahnya dalam-dalam.
“aku juga akan sangat merindukanmu, cepatlah kembali” suaranya serak, matanya berkaca-kaca. Air mata pun menetes dari kelopak matanya indah.
Aku menjulurkan tangan untuk menghapusnya, tapi... ia mencegahnya. Ia membiarkan air matanya mengalir membahasi pipi.
“kenapa?”
“tak perlu..tak perlu kau hapus air mataku , hapus saja air mata ini saat kau kembali nanti” ia memelukku lagi. Kali ini ia memeluk dengan sangat erat, seperti tak ingin kehilangan.
“aku berjanji! Aku yang akan menghapusnya sendiri saat aku kembali nanti”
Kami saling bertatapan, membiarkan butir-butir pilu menyelimuti, membiarkan keheningan menusuk-nusuk.
“hey sayangku.. aku relakan kau pergi, tapi berjanjilah! Kau akan kembali. Dan satu-satunya saat aku tak bisa melihatmu adalah saat kau memelukku dari belakang”. Ia tersenyum, terlihat seperti senyum yang dipaksakan. Jujur, aku tak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Bagiamana bisa, aku melihat peri kecilku tersenyum dalam tangisnya. Tapi inilah takdir tuhan, mau tak mau kami harus menghadapinya.
“aku berjanji, nanti saat semua pekerjaanku telah selesai. Aku akan segera kembali. Menghapus setiap air matamu. Membiarkan bahuku menjadi satu-satunya tempatmu bersandar”
Aku membuka tasku, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Setangkai mawar..ya,aku mengeluarkan setangkai mawar. Aku mematahkan duri yang menempel di tangkainya.
“ini untukmu, tolong jaga baik-baik mawar bersama durinya ini. Jika kau rindukan aku selama aku pergi, peluk saja bunga mawarnya. Tapi, jika ternyata nanti aku menyakitimu, gunakan saja durinya untuk menusuk hatiku saat aku kembali kelak”
Aku meraih tas , kemudian menaruhnya di punggungku. Dan untuk terakhir kalinya, aku mencium kedua pipinya. Pipi yang telah basah oleh air mata, air mata kepedihan..
****
Kereta mulai bergerak perlahan. Aku melambaikan tangan dari balik jendela. Aku berjanji kepada diriku sendiri, aku yang akan menghapus mata berkaca-kaca yang ada dibaliknya.
Senja bersenandung pilu hari ini, ia tahu akan ada kehilangan. Rindu-rindu yang akan dibawanya hingga ke tepian langit. Karena adakalanya takdir membawa garis-garis cinta ke titik nadir. Titik-titik yang kadang membuat kau tersenyum dan menangis tanpa alasan.
0 komentar:
Posting Komentar