".....Tuhan tak menghendaki kita bersama. Aku berlutut, kau bersujud. Cinta kita sama, tapi doa kita ada di lintasan yang berbeda.
7 JANUARI 2010
Namaku annisa ayu saputri, di
hitungan 19 tahun guratan kecil kasih sayang tuhan. Mungkin dari beberapa garis
wajah, terlihat bahwa usiaku lebih beberapa tahun dari usia sebenarnya. Untuk
yang satu ini aku tak bisa menyangkal. Takdir tuhan menggariskan aku harus
dihadapkan pada hal-hal sulit setiap hari. Bekerja di kantor sertifikasi profesi
dibawah naungan kementrian pekerjaan umum untuk wilayah kalimantan, bukanlah
hal mudah, belum lagi statusku yang juga sebagai mahasiswa weekend di
universitas islam kalimantan. Terkadang harus berhadapan dengan orang-orang
yang usianya lebih matang, lebih tua beberapa tahun dari usiaku. Seperti hari
ini, aku harus menjelaskan point-point penting kepada klient, namun acapkali
mereka lebih memilih menundukan kepala dan sibuk dengan ponsel masing-masing
ketimbang mendengar celotehku.
“hei.. boleh aku duduk sini?” pertanyaannya mengagetkanku
“hmm..tentu saja boleh” aku
tersenyum kecil, menggeser posisi dudukku dan membiarkan pria tersebut duduk
disebelah.
“aku adit” ia menjulurkan
tangannya. Mengembangkan senyum. Senyuman yang indah.
“aku ayu, ada yang bisa dibantu?”
“tidak..tidak, tidak ada, aku
tadi salah satu klient.. dan jujur aku terkagum-kagum dengan pekerjaanmu.
Bagaimana bisa di usia muda, kau bisa bekerja di tempat seperti ini?”
“ah, biasa saja. Mungkin sudah
takdirku disini. Menghabiskan berjam-jam dengan masalah sertifikasi.” Aku menarik napas panjang. Aku sendiri kadang
merasa lelah dengan pekerjaanku ini.
Jika
bukan karena dorongan teman-teman dan kedua orang tuaku, mungkin aku sudah
resign dari tempatku kerja saat ini.
“jadi, kau tidak mengingatku?”
“maksudmu? Aku tak mengerti”
“aku ini teman SMP mu. Apa kau sudah
lupa? I Putu Agung”
“hah, jadi kau adit yang dulu...”
“iya benar, aku adit yang dulu
sering jahil dan membuatmu menangis dengan menyembunyikan tas milikmu” ia
tertawa kecil. Tawa yang pernah aku lihat beberapa tahun silam.
“ini kartu namaku, aku bekerja di
perusahaan konstruksi. Kalo kau butuh bantuan apa saja, hubungi saja aku” ia
menjulurkan kartu namanya, kemudian tersenyum. Aneh, kenapa aku merasa
senyumnya tidak biasa. Aku merasa ada yang menarik dari senyumnya, dari caranya
melengkungkan bibir. Entah kenapa rasa ini hadir, rasa yang sudah lama tak pernah
aku rasakan....
“terima kasih”
aku mengambil kartu namanya. Memandanginya.
Disitu terlihat jelas namanya I Putu Agung Aditya. Sudah pasti, adit ini
bukanlah pria asli keturunan banjarmasin. Ia meripukan seorang pria keturunan
bali. Pria ini, pria yang mungkin sempat akan menggoreskan tinta hitam di
beberapa lembar bagian hidupku. Bagian-bagian yang akan selalu kulipat. Dan
tersimpan rapi.
***************
Baru saja aku beranjak dari tempat
tidur, saat ponselku berdering keras. Entah dari siapa, namanya tidak ada dalam
kontaku. Aku segera mengangkatnya.
.....................
“selamat
pagi ayu, jadi kau sudah terbangun?”
“maaf ini siapa?”
“ini aku adit. Tentu kau belum
melupakan obrolan ringan kita kemarin siang bukan?”
“owh iya.. adit. Maaf aku tidak
terlalu mengenali suaramu.” Aku segera berdehem untuk membetulkan suara.
“jadi bagaimana pekerjaanmu mu hari
ini?”
“seperti biasa, banyak tugas, tapi
syukurlah aku bisa pulang cepat. Tapi tunggu, dari mana kau dapatkan nomer
ponselku?”
“haha.. aku harus memaksa petugas
resepsionis untuk memberikan nomer ponsel, sekaligus dengan alamat rumahmu, aku
hebat bukan? Haha”
“dasar pria, selalu saja memaksa
kehendaknya”
“oh ya. Bagaimana jika nanti aku
ajak kamu makan malam di resto? Tentu hari ini free bukan?”
“hmmm bagaimana ya? Hari ini....
tapi baiklah, mungkin aku bisa mempertimbangkan tawaranmu dit.”
“sukurlah, oke aku akan menjemputmu
nanti sore.”
“baiklah”
“kalo begitu aku kabari lagi nanti,
have a nice day ya.. bye..”
“iyaaa”
................................
Aku
termenung sejenak mengingat pembicaraanku dengan adit tadi, pria yang bahkan
belum 24 jam aku temmui. Bagaimana bisa dengan mudah aku menerima tawarannya?
Bagaimana bisa rasa gengsiku terabaikan dengan mudah?
*********************
Aku duduk di meja belakang resto megah
ini. Dari konsep ruangannya. Mungkin resto ini dimiliki oleh seorang chinese.
Aku memperhatikan kebanyakan pengunjung yang datang ke tempat ini juga bermata
sipit. Belum lagi list makanan yang terpampang, scrispy shrimp balls,sezcuan
soup, fried beef kwetiau, crispy soka krab. Nama-nama yang sangat tidak
familiar di telingaku. Entah kenapa adit bisa mengajaku ke tempat seperti ini.
“hei.. kau melamun ayu?” suara adit
mengagetkan..
“tidak aku Cuma mengagumi konsep
resto ini, sangat menarik”
Adit
mengarahkan tatapannyya ke wajahku. Untuk sesaaat kami saling bertatapan. Jujur
tatapannya itu sangat meneduhkan, tatapannya bagai membuat aku jatuh ke sebuah
palung dalam. Dan membuatku jatuh tenggelam didalamnya. Aku tak tahu rasa apa
ini, setiap aku menatap wajahnya, setiap ia menepalkan tangan halusnya di
tanganku. Hatiku merasa berjingkat, bangkit dari kesunyian yang telah lama
terkubur. Apa aku jatuh cinta? Tapi.. bukankah aku ini tipe orang yang tidak
mudah jatuh cinta pada pendangan pertama. Tapi baiklah......untuk adit, tak
apa. Biarkan ia menjadi pengecualian bagiku. Aku ingin jatuh cinta pada
pandangan pertama terhadapnya.
“hei..ayo dimakan makannya. Tentu kau
tidak ingin aku memaksa memasukannya ke mulutmu”. Suara adit riang, membuyarkan
lamunan.
Aku
segera meminum segelas lemon tea, dan menyantap calamary fried squid
dihadapanku.
“bagaimana rasanya? Enak bukan?”
“iya. Aku pantas memberikan dua
jempol kepada koki yang memasaknya” aku tersenyum
“tak sia-sia aku mengajakmu kesini
bukan? Ayo cepat habiskan makannya. Bukankah setelah ini kau harus shalat isya?”
Aku
tersenyum mendengar perkataan adit. Perkataannya itu membuat hatiku berdesir,
betapa dalam jurang perbedaaan diantara kami yang harus diredam.....
Aku
menghabiskan malam ini hanya berdua dengan adit. Kami tertawa bersama dan
saling menceritakan hal-hal konyol. Kadang ia bercerita tentang pekerjaaanya,
kadang aku yang bercerita. Malam ini kami serasa berbicara di atas bulan, tak
menghiraukan rasa iri bintang. Kami berdua bagai matahari yang berputar pada
porosnya. Membiarkan rasi-rasi bintang mengitari. Membiarkan kami duduk
bersama. Dan memaksa keindahan malam memeluk kami. Memeluk rasa-rasa sayang
yang muncul dibalik guratan luka.
**********
Hal itu berlanjut untuk
seterusnya. Kami mulai merajut benang kecil garis takdir. Mengisi gelas-gelas
kaca rapuh dengan partikel-partikel kuatnya rindu. Kekagumanku kepadanya
semakin besar. Walaupun ia bukan seorang
muslim , ia selalu mengingatkan dan membangunkanku untuk sholat. Aku
mulai merasa nyaman bersama adit. Dia lah satu-satunya orang yang mau
mendengarkan curhatanku. Menyodorkan bahunya saat aku menangis. Untuk kemudian
mengusap air mataku.
Ia bagai oase di padang kesunyianku...
Ia bagai gerimis untuk kemarau panjang ku.
Ia lah salah satu alasanku untuk tersenyum di
pagi hari...
***********
23 MARET 2010
Aku duduk di bangku kosong di pojok
sebelah utara pura jagat nata. Sudah lebih dari 15 menit aku duduk disini
menanti kekasihku adit, menyelesaikan ibadahnya. Tepat beberapa bulan setelah
pertemuan kami di kantor sore itu, kami memutuskan untuk menjalin hubungan
asmara. Aku dan adit hanyalah manusia biasa, yang tak kuasa menahan rasa cinta.
Tak pula kuasa untuk menyembunyikan secercah senyum saat kami bertatap muka.
Jika
ditanya bagaimana perasaanku saat ini.. aku tak tau.. aku tak tahu harus
menjawab apa. Hari ini, hari jumat, aku sedang menjalankan ibadah puasa
ramadhan. Hari suci umat islam. Tapi ... saat ini, detik ini, aku sedang duduk
di depan sebuah pura. Menanti kekasihku, berlutut menyerukan doa-doa kepada
tuhannya.
.............
Aku masih memainkan daun kering yang
gugur dari pohonnya saat adit menghampiriku. Terlihat ia sangat bergembira.
“maaf membuatmu menunggu lama” ia duduk disebelahku
“tak apa, sudah selesai?”
“sudah... jadi, mau kemana kita
setelah ini?
Aku
menghela nafas, tak tau mau kemana lagi setelah ini. Tapi, aku ingat aku harus
membeli bahan makanan untuk berbuka nanti.
“bagaimana jika kita ke swalayan? Aku
harus membeli beberapa bahan makanan untuk berbuka nanti”
“baiklah, ayo..tunggu apa lagi” adit
mengelus-elus rambutku, kemudian menggandengku, memasukan jari-jarinya
disela-sela jariku. Saat-saat seperti inilah, saat dimana aku merasa sangat nyaman.
Saat dimana aku merasa memiliki seorang malaikat yang menjagaku. Ah .... aku
mencintaimu adit. Sungguh-sungguh mencintaimu.
***********
Begitulah seterusnya, berbulan-bulan
kami menjaga mati-matian kemesraan seperti ini. Kami sering menghabiskan waktu
bersama, duduk di tepi danau menikmati senja. Atau duduk di bangku kecil di
sudut taman sambil menikmati secangkir kopi. Kami membiarkan rasa cinta tumbuh
semakin besar, membiarkan senyum menuliskan penanya di kanvas kepolosan. Membuat
embun merona, membuat gerimis tak segan memayungi.
Hari
demi hari rasa cinta kami semakin kuat, hingga pada akhirnya................
Aku
harus menghadapi kenyataan,salah satu kenyataan terpahit dihidupku..........
23 DESEMBER 2010
Sudah berhari-hari
adit tak memberi kabar, entah apa yang terjadi. Tak biasanya seperti ini,
padahal kemanapun ia pergi ia selalu memberiku kabar. Aku cemas, aku takut
sesuatu terjadi kepadanya. Berulang kali aku menghubungi ponselnya, namun sama
sekali tak ada jawaban. Aku coba mendatangi kantor tempat ia bekerja, namun
sama sekali tak terlihat. Bahkan petugas jaga pun mengatakan sudah beberapa
hari ini adit tidak datang ke kantor.
...........
Hari-hariku
sepi, aku merasa sangat murung. Bagaimana tidak? Aku tiba-tiba tak tahu dimana
dan sedang apa malaikat pelindungku, kekasihku.
Aku
jatuh sakit. Aku benar-benar merindukannya..... hingga aku tak sengaja membuka
kotak masuk email ku. Dan ternyata ada
sebuah pesan. Pesan dari adit.
Mendadak
mataku terbuka lebar, aku segera membaca pesan tersebut, berharap ada kabar
baik.
Untukmu Annisa ayu
saputri
Aku tahu, saat ini
kau sedang murung...
dengan setulus hati
aku minta maaf, aku tak memberi kabar beberapa hari ini. Ketahuilah sampai
detik ini, sampai saat kau sedang membaca pesan ini, aku masih mencintaimu..
sungguh-sungguh mencintaimu. Tapi..........
Mungkin mulai saat
ini, kau tak perlu mencariku lagi. Aku sudah pulang ke bali. Aku keluar dari
pekerjaanku. Aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku.
Maaf aku tak
mengatakannya langsung kepadamu, maaf kita tak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku
tak kuasa melawan takdir. Tuhan tak menghendaki kita bersama. Aku berlutut, kau
bersujud. Cinta kita sama, tapi doa kita ada di lintasan yang berbeda.
Kita saling
mencintai, tapi tuhan tak menghendaki kita untuk bersama.
Ayu.....
Jika pesan ini
benar-benar menyakitimu. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Tolong mulai saat ini
lupakan saja aku.
Terima kasih untuk
semua senja yang kita lewati bersama,
Untuk semua cangkir
kopi yang kau buatkan untukku,
Untuk semua senyummu,
semua hal-hal bodoh yang sering kita tertawakan bersama. Terima kasih..
Aku yang sudah
(berpura-pura) melupakanmu
I Putu Agung
Aditya
.
Sekujur tubuhku terasa lemas, hatiku
bagaikan tertusuk duri tajam. Aku masih tak percaya setiap kata di pesan yang
kubaca tadi. Udara yang ku hirup terasa sesak, pandanganku gelap. Aku menangis....aku
menangis.....
23 MARET 2011
Aku duduk di sebuah bangku merah kecil. Memperhatikan
setiap daun yang gugur dari pohon dihadapanku. Suasananya tak terlalu asing. Aku
masih melihat bangunan megah dihadapanku pura dengan papan bertuliskan jagat nata. Ya..... tepat setahun lalu, aku berdiri disini, menunggu, menanti kekasih
berlutut, berdoa kepada tuhannya.
Tapi
saat ini.... entah untuk apa aku kesini, tak tau apa yang aku tunggu. Rasanya tempat
ini hanya mencabik-cabik perasaanku. Terlalu banyak kenangan disini. Seharusnya
aku menyalahkan naluri yang menuntun ragaku tuk datang ke sini...
Sejujurnya..
beberapa bagian dari hatiku masih berharap, ada sosok pria yang keluar dari
pintu merah di ujung sana, untuk kemudian menyapa... sebentar saja, kali ini
saja..
Tapi
aku sadar, itu tak mungkin terjadi.. tak akan pernah mungkin terjadi lagi..
Seperti
kata-katanya “tuhan tak menginginkan kita
tuk bersama”.........
Langit
sore ini mendung... mencurahkan setiap butiran hujan... ia tahu ada banyak
kehilangan disini, ia tahu adakalanya kita tak bisa memperjuangkan hal-hal yang
seharusnya kita perjuangkan.
Hujan
tahu.... adakalanya kita harus menangis, lalu merelakan untuk kemudian
melupakan...
P.s cerpen ini aku dedikasikan untuk sahabatku Annisa Ayu Saputri
karena aku punya hutang cerpen sama dia, mau tak mau aku harus menyelesaikan cerpen ini hehe...
yah walaupun lagi sibuk.
anyway terima kasih banyak buat sahabat maya ku ini, ia yang selalu menyuruhku untuk tetap belajar menulis dan menulis :) dan juga selalu memberi inspirasi lewat tulisan-tulisan di blognya www.annisayus.blogspot.com
terima kasih juga untuk selalu mewanti-wanti untuk tidak berhenti membaca. aku selalu inget kata-katanya "tanpa membaca, kita akan kebobolan kosakata"
karena nasehatnya itu pula, beberapa hari lalu aku menyempatkan diri lagi untuk membeli beberapa buku. errrrrr -__-
but anyway, terimakasih ayu. salah satu penulis muda. semoga bisa terus berkarya. :)

0 komentar:
Posting Komentar