Jumat, 31 Agustus 2012

Lintasan Doa


".....Tuhan tak menghendaki kita bersama. Aku berlutut, kau bersujud. Cinta kita sama, tapi doa kita ada di lintasan yang berbeda.
Kita saling mencintai, tapi tuhan tak menghendaki kita untuk bersama..."

7 JANUARI 2010
Namaku annisa ayu saputri, di hitungan 19 tahun guratan kecil kasih sayang tuhan. Mungkin dari beberapa garis wajah, terlihat bahwa usiaku lebih beberapa tahun dari usia sebenarnya. Untuk yang satu ini aku tak bisa menyangkal. Takdir tuhan menggariskan aku harus dihadapkan pada hal-hal sulit setiap hari. Bekerja di kantor sertifikasi profesi dibawah naungan kementrian pekerjaan umum untuk wilayah kalimantan, bukanlah hal mudah, belum lagi statusku yang juga sebagai mahasiswa weekend di universitas islam kalimantan. Terkadang harus berhadapan dengan orang-orang yang usianya lebih matang, lebih tua beberapa tahun dari usiaku. Seperti hari ini, aku harus menjelaskan point-point penting kepada klient, namun acapkali mereka lebih memilih menundukan kepala dan sibuk dengan ponsel masing-masing ketimbang mendengar celotehku.
Hari ini hari kamis, masih jauh dari libur akhir pekan. Aku duduk di bangku kosong depan meja kerja, rasanya terlalu lelah setelah seharian tadi memberikan pengarahan kepada klient-klient ku. Entah sudah berapa kali aku mengusap keringat, tenggorokanku kering. Tentu saja itu sudah menjadi kepastian di siang hari panas seperti ini. Hingga..aku terkejut ada seroang pria menghampiri. Pria dengan perawakan kurus, dengan kulit putih bersih.
“hei.. boleh aku duduk sini?”  pertanyaannya mengagetkanku
“hmm..tentu saja boleh”  aku tersenyum kecil, menggeser posisi dudukku dan membiarkan pria tersebut duduk disebelah.
“aku adit” ia menjulurkan tangannya. Mengembangkan senyum. Senyuman yang indah.
“aku ayu, ada yang bisa dibantu?”
“tidak..tidak, tidak ada, aku tadi salah satu klient.. dan jujur aku terkagum-kagum dengan pekerjaanmu. Bagaimana bisa di usia muda, kau bisa bekerja di tempat seperti ini?”
“ah, biasa saja. Mungkin sudah takdirku disini. Menghabiskan berjam-jam dengan masalah sertifikasi.”  Aku menarik napas panjang. Aku sendiri kadang merasa lelah dengan pekerjaanku ini.
Jika bukan karena dorongan teman-teman dan kedua orang tuaku, mungkin aku sudah resign dari tempatku kerja saat ini.
            “jadi, kau tidak mengingatku?”
            “maksudmu? Aku tak mengerti”
            “aku ini teman SMP mu. Apa kau sudah lupa? I Putu Agung”
            “hah, jadi kau adit yang dulu...”
            “iya benar, aku adit yang dulu sering jahil dan membuatmu menangis dengan menyembunyikan tas milikmu” ia tertawa kecil. Tawa yang pernah aku lihat beberapa tahun silam.
            “ini kartu namaku, aku bekerja di perusahaan konstruksi. Kalo kau butuh bantuan apa saja, hubungi saja aku” ia menjulurkan kartu namanya, kemudian tersenyum. Aneh, kenapa aku merasa senyumnya tidak biasa. Aku merasa ada yang menarik dari senyumnya, dari caranya melengkungkan bibir. Entah kenapa rasa ini hadir, rasa yang sudah lama tak pernah aku rasakan....
            “terima kasih”
 aku mengambil kartu namanya. Memandanginya. Disitu terlihat jelas namanya I Putu Agung Aditya. Sudah pasti, adit ini bukanlah pria asli keturunan banjarmasin. Ia meripukan seorang pria keturunan bali. Pria ini, pria yang mungkin sempat akan menggoreskan tinta hitam di beberapa lembar bagian hidupku. Bagian-bagian yang akan selalu kulipat. Dan tersimpan rapi.
***************
            Baru saja aku beranjak dari tempat tidur, saat ponselku berdering keras. Entah dari siapa, namanya tidak ada dalam kontaku. Aku segera mengangkatnya.
.....................
            “selamat pagi ayu, jadi kau sudah terbangun?”
            “maaf ini siapa?”
            “ini aku adit. Tentu kau belum melupakan obrolan ringan kita kemarin siang bukan?”
            “owh iya.. adit. Maaf aku tidak terlalu mengenali suaramu.” Aku segera berdehem untuk membetulkan suara.
            “jadi bagaimana pekerjaanmu mu hari ini?”
            “seperti biasa, banyak tugas, tapi syukurlah aku bisa pulang cepat. Tapi tunggu, dari mana kau dapatkan nomer ponselku?”
            “haha.. aku harus memaksa petugas resepsionis untuk memberikan nomer ponsel, sekaligus dengan alamat rumahmu, aku hebat bukan? Haha”
            “dasar pria, selalu saja memaksa kehendaknya”
            “oh ya. Bagaimana jika nanti aku ajak kamu makan malam di resto? Tentu hari ini free bukan?”
            “hmmm bagaimana ya? Hari ini.... tapi baiklah, mungkin aku bisa mempertimbangkan tawaranmu dit.”
            “sukurlah, oke aku akan menjemputmu nanti sore.”
            “baiklah”
            “kalo begitu aku kabari lagi nanti, have a nice day ya.. bye..”
            “iyaaa”
................................
Aku termenung sejenak mengingat pembicaraanku dengan adit tadi, pria yang bahkan belum 24 jam aku temmui. Bagaimana bisa dengan mudah aku menerima tawarannya? Bagaimana bisa rasa gengsiku terabaikan dengan mudah?
*********************

            Aku duduk di meja belakang resto megah ini. Dari konsep ruangannya. Mungkin resto ini dimiliki oleh seorang chinese. Aku memperhatikan kebanyakan pengunjung yang datang ke tempat ini juga bermata sipit. Belum lagi list makanan yang terpampang, scrispy shrimp balls,sezcuan soup, fried beef kwetiau, crispy soka krab. Nama-nama yang sangat tidak familiar di telingaku. Entah kenapa adit bisa mengajaku ke tempat seperti ini.
            “hei.. kau melamun ayu?” suara adit mengagetkan..
            “tidak aku Cuma mengagumi konsep resto ini, sangat menarik”
Adit mengarahkan tatapannyya ke wajahku. Untuk sesaaat kami saling bertatapan. Jujur tatapannya itu sangat meneduhkan, tatapannya bagai membuat aku jatuh ke sebuah palung dalam. Dan membuatku jatuh tenggelam didalamnya. Aku tak tahu rasa apa ini, setiap aku menatap wajahnya, setiap ia menepalkan tangan halusnya di tanganku. Hatiku merasa berjingkat, bangkit dari kesunyian yang telah lama terkubur. Apa aku jatuh cinta? Tapi.. bukankah aku ini tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta pada pendangan pertama. Tapi baiklah......untuk adit, tak apa. Biarkan ia menjadi pengecualian bagiku. Aku ingin jatuh cinta pada pandangan pertama terhadapnya.
            “hei..ayo dimakan makannya. Tentu kau tidak ingin aku memaksa memasukannya ke mulutmu”. Suara adit riang, membuyarkan lamunan.
Aku segera meminum segelas lemon tea, dan menyantap calamary fried squid dihadapanku.
            “bagaimana rasanya? Enak bukan?”
            “iya. Aku pantas memberikan dua jempol kepada koki yang memasaknya” aku tersenyum
            “tak sia-sia aku mengajakmu kesini bukan? Ayo cepat habiskan makannya. Bukankah setelah ini kau harus shalat isya?”
Aku tersenyum mendengar perkataan adit. Perkataannya itu membuat hatiku berdesir, betapa dalam jurang perbedaaan diantara kami yang harus diredam.....
Aku menghabiskan malam ini hanya berdua dengan adit. Kami tertawa bersama dan saling menceritakan hal-hal konyol. Kadang ia bercerita tentang pekerjaaanya, kadang aku yang bercerita. Malam ini kami serasa berbicara di atas bulan, tak menghiraukan rasa iri bintang. Kami berdua bagai matahari yang berputar pada porosnya. Membiarkan rasi-rasi bintang mengitari. Membiarkan kami duduk bersama. Dan memaksa keindahan malam memeluk kami. Memeluk rasa-rasa sayang yang muncul dibalik guratan luka.
**********

Hal itu berlanjut untuk seterusnya. Kami mulai merajut benang kecil garis takdir. Mengisi gelas-gelas kaca rapuh dengan partikel-partikel kuatnya rindu. Kekagumanku kepadanya semakin besar. Walaupun  ia bukan seorang muslim , ia selalu mengingatkan dan membangunkanku untuk sholat. Aku mulai merasa nyaman bersama adit. Dia lah satu-satunya orang yang mau mendengarkan curhatanku. Menyodorkan bahunya saat aku menangis. Untuk kemudian mengusap air mataku.
 Ia bagai oase di padang kesunyianku...
 Ia bagai gerimis untuk kemarau panjang ku.
 Ia lah salah satu alasanku untuk tersenyum di pagi hari...
 ***********
23 MARET 2010
            Aku duduk di bangku kosong di pojok sebelah utara pura jagat nata. Sudah lebih dari 15 menit aku duduk disini menanti kekasihku adit, menyelesaikan ibadahnya. Tepat beberapa bulan setelah pertemuan kami di kantor sore itu, kami memutuskan untuk menjalin hubungan asmara. Aku dan adit hanyalah manusia biasa, yang tak kuasa menahan rasa cinta. Tak pula kuasa untuk menyembunyikan secercah senyum saat kami bertatap muka.
Jika ditanya bagaimana perasaanku saat ini.. aku tak tau.. aku tak tahu harus menjawab apa. Hari ini, hari jumat, aku sedang menjalankan ibadah puasa ramadhan. Hari suci umat islam. Tapi ... saat ini, detik ini, aku sedang duduk di depan sebuah pura. Menanti kekasihku, berlutut menyerukan doa-doa kepada tuhannya.
.............
            Aku masih memainkan daun kering yang gugur dari pohonnya saat adit menghampiriku. Terlihat ia sangat bergembira.
            “maaf membuatmu menunggu lama”  ia duduk disebelahku
            “tak apa, sudah selesai?”
            “sudah... jadi, mau kemana kita setelah ini?
Aku menghela nafas, tak tau mau kemana lagi setelah ini. Tapi, aku ingat aku harus membeli bahan makanan untuk berbuka nanti.
            “bagaimana jika kita ke swalayan? Aku harus membeli beberapa bahan makanan untuk berbuka nanti”
            “baiklah, ayo..tunggu apa lagi” adit mengelus-elus rambutku, kemudian menggandengku, memasukan jari-jarinya disela-sela jariku. Saat-saat seperti inilah, saat dimana aku merasa sangat nyaman. Saat dimana aku merasa memiliki seorang malaikat yang menjagaku. Ah .... aku mencintaimu adit. Sungguh-sungguh mencintaimu.
***********
            Begitulah seterusnya, berbulan-bulan kami menjaga mati-matian kemesraan seperti ini. Kami sering menghabiskan waktu bersama, duduk di tepi danau menikmati senja. Atau duduk di bangku kecil di sudut taman sambil menikmati secangkir kopi. Kami membiarkan rasa cinta tumbuh semakin besar, membiarkan senyum menuliskan penanya di kanvas kepolosan. Membuat embun merona, membuat gerimis tak segan memayungi.
Hari demi hari rasa cinta kami semakin kuat, hingga pada akhirnya................
Aku harus menghadapi kenyataan,salah satu kenyataan terpahit dihidupku..........

23 DESEMBER 2010
            Sudah  berhari-hari adit tak memberi kabar, entah apa yang terjadi. Tak biasanya seperti ini, padahal kemanapun ia pergi ia selalu memberiku kabar. Aku cemas, aku takut sesuatu terjadi kepadanya. Berulang kali aku menghubungi ponselnya, namun sama sekali tak ada jawaban. Aku coba mendatangi kantor tempat ia bekerja, namun sama sekali tak terlihat. Bahkan petugas jaga pun mengatakan sudah beberapa hari ini adit tidak datang ke kantor.
...........
Hari-hariku sepi, aku merasa sangat murung. Bagaimana tidak? Aku tiba-tiba tak tahu dimana dan sedang apa malaikat pelindungku, kekasihku.
Aku jatuh sakit. Aku benar-benar merindukannya..... hingga aku tak sengaja membuka kotak masuk email ku.  Dan ternyata ada sebuah pesan. Pesan dari adit.
Mendadak mataku terbuka lebar, aku segera membaca pesan tersebut, berharap ada kabar baik.

Untukmu Annisa ayu saputri
Aku tahu, saat ini kau sedang murung...
dengan setulus hati aku minta maaf, aku tak memberi kabar beberapa hari ini. Ketahuilah sampai detik ini, sampai saat kau sedang membaca pesan ini, aku masih mencintaimu.. sungguh-sungguh mencintaimu. Tapi..........
Mungkin mulai saat ini, kau tak perlu mencariku lagi. Aku sudah pulang ke bali. Aku keluar dari pekerjaanku. Aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku.
Maaf aku tak mengatakannya langsung kepadamu, maaf kita tak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku tak kuasa melawan takdir. Tuhan tak menghendaki kita bersama. Aku berlutut, kau bersujud. Cinta kita sama, tapi doa kita ada di lintasan yang berbeda.
Kita saling mencintai, tapi tuhan tak menghendaki kita untuk bersama.
Ayu.....
Jika pesan ini benar-benar menyakitimu. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Tolong mulai saat ini lupakan saja aku.
Terima kasih untuk semua senja yang kita lewati bersama,
Untuk semua cangkir kopi yang kau buatkan untukku,
Untuk semua senyummu, semua hal-hal bodoh yang sering kita tertawakan bersama. Terima kasih..
Aku yang sudah (berpura-pura) melupakanmu
I Putu Agung Aditya
.
            Sekujur tubuhku terasa lemas, hatiku bagaikan tertusuk duri tajam. Aku masih tak percaya setiap kata di pesan yang kubaca tadi. Udara yang ku hirup terasa sesak, pandanganku gelap. Aku menangis....aku menangis.....

23 MARET 2011
            Aku duduk di sebuah bangku merah kecil. Memperhatikan setiap daun yang gugur dari pohon dihadapanku. Suasananya tak terlalu asing. Aku masih melihat bangunan megah dihadapanku pura dengan papan bertuliskan jagat nata. Ya..... tepat setahun lalu, aku berdiri disini, menunggu, menanti kekasih berlutut, berdoa kepada tuhannya.
Tapi saat ini.... entah untuk apa aku kesini, tak tau apa yang aku tunggu. Rasanya tempat ini hanya mencabik-cabik perasaanku. Terlalu banyak kenangan disini. Seharusnya aku menyalahkan naluri yang menuntun ragaku tuk datang ke sini...
Sejujurnya.. beberapa bagian dari hatiku masih berharap, ada sosok pria yang keluar dari pintu merah di ujung sana, untuk kemudian menyapa... sebentar saja, kali ini saja..
Tapi aku sadar, itu tak mungkin terjadi.. tak akan pernah mungkin terjadi lagi..
Seperti kata-katanya “tuhan tak menginginkan kita tuk bersama”.........
Langit sore ini mendung... mencurahkan setiap butiran hujan... ia tahu ada banyak kehilangan disini, ia tahu adakalanya kita tak bisa memperjuangkan hal-hal yang seharusnya kita perjuangkan.
Hujan tahu.... adakalanya kita harus menangis, lalu merelakan untuk kemudian melupakan... 


P.s cerpen ini aku dedikasikan untuk sahabatku Annisa Ayu Saputri


karena aku punya hutang cerpen sama dia, mau tak mau aku harus menyelesaikan cerpen ini hehe...
yah walaupun lagi sibuk. 
anyway terima kasih banyak buat sahabat maya ku ini, ia yang selalu menyuruhku untuk tetap belajar menulis dan menulis :) dan juga selalu memberi inspirasi lewat tulisan-tulisan di blognya www.annisayus.blogspot.com
terima kasih juga untuk selalu mewanti-wanti untuk tidak berhenti membaca. aku selalu inget kata-katanya "tanpa membaca, kita akan kebobolan kosakata"
karena nasehatnya itu pula, beberapa hari lalu aku menyempatkan diri lagi untuk membeli beberapa buku. errrrrr -__-

but anyway, terimakasih ayu. salah satu penulis muda. semoga bisa terus berkarya. :)

0 komentar:

Posting Komentar