Jumat, 27 Juli 2012
Coretan Kertas
Karena adakalanya takdir membawa garis-garis cinta ke titik nadir. Titik-titik yang kadang membuatmu tersenyum dan menangis tanpa alasan.
Butir Senja Dibalik Jendela Kereta
“Aku relakan kau pergi, tapi berjanjilah! Kau akan kembali. Dan satu-satunya saat aku tak bisa melihatmu adalah saat kau memelukku dari belakang” – Falla Adinda
Sore begitu mendung, langit seolah membentuk lingkaran muram. Mereka seolah tahu akan ada perpisahan hari ini. Dibawah langit senja, dihadapan kereta terakhir menuju jakarta.
“kau sudah memeriksa semua barang-barangmu?” Vallin membuka satu per satu isi tasku. Terlihat sekali ia begitu teliti, seperti tak ingin ada satu barang pun yang ingin aku tingggalkan. Untuk hal-hal seperti ini, kekasih hatiku ini memang jagonya. Ia selalu mempersiapkan sesuatunya dengan rapih.
“sudah, kau tak perlu aku khawatir. Aku sudah mempersiapkannya, tak ada satu pun yang tertinggal” aku tersenyum, kemudian menarik tubuhnya kehadapanku.
Kamis, 26 Juli 2012
Coretan Kertas
Jika kau sedang tak bisa melihatku, tak bisa menyelipkan jarimu diantara jari-jari ku, tak bisa meyatukan aroma nafasmu dengan nafasku. Ingatlah, aku selalu berada di belakangmu, menjadi setiap amin dalam doamu.
Coretan Kertas
Pada akhirnya, rindu hanyalah seperti gerimis dibalik jendela. Kau ingin menyentuh, tetapi lebih memilih untuk menutupnya.
Coretan Kertas
Ada orang-orang yang saling mencintai, namun harus rela hati karena tak bisa saling memiliki, sementara itu.. banyak orang-orang yang lebih memilih untuk merelakan dibanding mempertahankan.
Coretan kertas
Biarkan aku menjadi setiap doa dalam sujudmu. setiap serak suara yang kau keluarkan kepada tuhan. biarkan aku menjadi harapan, setiap kepasrahan yang kau curahkan.
Perkara Rindu
"tolong rindukan aku, beberapa detik saja dalam hidupmu"
**********
Aku membuka mata, kepalaku agak sedikit pusing. separuh ruangan ini juga terasa asing. Terlalu banyak dekorasi berwarna putih. Aku memandang ke sekeliling ruangan, hingga akhirnya terhenti pada sosok wanita yang tersenyum kecil, rambut sedikit ikal terurai, dan lesung pipit di kedua pipinya saat ia tersenyum. butuh waktu yang agak lama untuk bisa mengenali wanita tersebut, mungkin karena efek kepala yang masih terasa pusing.
“hei..kau sudah sadar? Sukurlah” wanita tersebut berbicara dengan wajah yang terlihat sangat bergembira. Ya, dan aku pun segera menyadari kalau sosok wanita yang sedang berbicara kepadaku adalah Aurin, sahabatku sendiri.
“hmm dimana aku?” hanya itu kata yang bisa meluncur dari mulutku.
“kau di rumah sakit, tadi kau pingsan. Semua orang panik dan akhirnya membawamu kesini. Tapi, syukurlah kau sudah siuman”
“tapi, bukankah tadi aku baik-baik saja?”
Aku bangkit dari rebahan, terlalu lelah rasanya terlentang berjam-jam. Aurin mendekatkan tubuhnya, tangannya yang hangat dan halus menempel di tangan serta punggungku. Ia membantuku bersandar di ujung ranjang.
“kau kelelahan , harusnya jangan kau paksakan kondisi tubuhmu, aku khawatir, aku cemas” perkataan Aurin meluncur dengan penuh perhatian. Aku sendiri menyadari bahwa tubuhku sangat lemah, entah kenapa akhir-akhir ini sering terasa lemas dan kepalaku pusing. Sudah dua kali dalam seminggu ini aku jatuh pingsan, aku merasa kekuatan fisikku semakin menurun, tapi anehnya ketika aku menanyakan kepada dokter, dia bilang kalau aku baik-baik saja. Dia bilang aku hanya kelelahan dan typus ku kambuh.
“ben, kau masih merasa pusing?” Aurin memegang tanganku, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap. Tangan halus Aurin sejujurnya sangat membuatku nyaman. Tapi, Aku harus melepas genggaman tangannya. Terlihat sekali dia kaget dan kecewa, tapi, bukankah aku sudah sering mengecawakannya. Aku sering membuat hatinya terluka. Aku tahu bagaimana perasaannya terhadapku, perasaan lebih dari sekedar teman. Tatapan matanya, menunjukan bahwa ada suatu perhatian lebih terhadapku. Tapi, kenapa harus kepadaku? Kenapa bukan kepada orang lain saja. Bukankah masih banyak pria baik yang lebih layak dia cintai. Sedangkan aku, aku tidak bisa menerimanya, aku masih menantikan bidadari ku, yang aku yakin akan kutemukan suatu hari nanti. Sejujurnya, ingin sekali aku katakan hal itu kepadanya, tapi saat melihat kedua matanya, aku menjadi lemah. Matanya berkaca-kaca, sayu dan sangat menenangkan. Membuatku tidak sanggup untuk menyakitinya dengan mengatakan hal tersebut.
“aku baik-baik saja, kau tidak perlu menghawatirkanku” aku menjawab lirih.
“syukurlah”
******
Sebenarnya, bukan Aurin lah sosok yang aku inginkan untuk menemani saat aku terbaring tak berdaya. Ada sosok lain yang kurindukan,
Selasa, 24 Juli 2012
kebahagiaanku?
Saat akan mengambil lauk untuk sarapan, kau melihat ada dua potong ayam goreng. lalu kemudian memutuskan untuk mengambil satu potongan yang lebih kecil, dan menyisakan potongan yang besar untuk adikmu...
apakah definisi kebahagiaan juga bisa diibaratkan seperti hal diatas? kau rela mengambil potongan kebahagian yang kecil, dan memberikan potongan besarnya untuk orang yang kau sayang?
kalau aku harus menjawabnya....aku tak tahu..
apakah definisi kebahagiaan juga bisa diibaratkan seperti hal diatas? kau rela mengambil potongan kebahagian yang kecil, dan memberikan potongan besarnya untuk orang yang kau sayang?
kalau aku harus menjawabnya....aku tak tahu..
Secangkir Kopi
Ketika kau melihatku tersenyum, itu bukan karena aku bahagia. Tapi karena aku sudah tak sanggup lagi menangis.....
...........
Aku masih menerawang jauh ke balik jendela, membiarkan rara menyetir mobil. Sejujurnya, sore ini sangat membuatku malas untuk pergi kemana-mana. Tapi, aku tak bisa menolak ajakan jika yang mengajak sahabatku yang satu ini. Saat rara mengajakku pergi, tak ada alasan yang bisa membuatku menolaknya. Ah,entahlah...
“vivi, kenapa melamun. Biasanya kamu yang selalu bercerita panjang lebar” suara rara muncul tiba-tiba.
“ayolah, nikmati sore ini. Sore ini sangat indah” tambahnya.
“hey ra, bisakah kau tetap diam. Dan lanjutkan saja menyetirmu.huuh” gerutuku.
“baiklah, terserah kau saja”
Aku sedang tidak ingin berbicara, membiarkan lamunanku menerawang, aku tidak tahu kemana rara akan membawaku sore ini.
**********
Suasana di kafe jackal hari ini sangat ramai, hal itu bisa terlihat dari jumlah kendaraan yang ada di parkiran. Entah kenapa rara bisa mengajakku ke tempat ini. Kenapa tidak ke tempat lain saja, bagiku tempat ini punya kenangan. Tapi aku tak tahu, entah itu kenangan manis atau pahit....
Ketika Jarak Tentang Tuhan
Entah darimana aku harus memulai cerita , aku bukan tipe orang yang bisa menerima perbedaan begitu saja dalam sebuah hubungan. Apalagi dalam suatu asmara, namun hari ini.. tuhan memberitahu aku, ada sepasang malaikat-malaikat tak bercahaya, tak bersayap. Mereka tersenyum, bahkan ketika orang lain harusnya menangis melihat ketegaran mereka....
Disinilah semua berawal...
Senja hari ini begitu cerah, dia seolah tersenyum sayu kepadaku. Aku adalah salah satu pengagum senja, tak peduli bagaimanapun mood ku hari ini. Tapi, ketika senja datang semuanya terasa lebih menyenangkan. Juga untuk hari ini, aku sangat kelelahan selama 3 hari. Berada di daerah yang jauh dari rumah untuk bakti sosial. Di daerah terpencil, kesulitan air, dan makanan seadanya. Hmm belum lagi udara yang cukup ekstrem. Benar-benar melelahkan.
Aku harus berjalan menyusuri jalan kecil di desa jatinegara, menuju perkampungan untuk sekedar numpang mandi di rumah warga. Hingga ada pemandangan yang mengalihkan perhatianku,