Sabtu, 31 Maret 2012

hujan maafkan aku

jalanan basah oleh hujan yang turun tanpa henti sejak tadi siang. wanita setengah baya tersebut tetap berjalan tanpa menoleh. tanpa memperdulikan hujan yang semakin deras yang membahasi pakaian dan jilbab putihnya. ia membawa tiga buah jinjingan dua buah jinjingan kecil dan satu jinjingan kecil. dari balik jinjingan kecil tersebut terselip dan terlihat sebuah boneka. walaupun hanya tampak samar. derap sepatu haknnya menyibakkan percikan kubangan air hujan di tanah. ...
dan hujan pun semakin deras, terpaksa membuat si wanita berlari kecil hingga sampai di ujung pagar sederhana. ia berhenti sejenak dan mengembangkan senyum kecil. terlihat matanya berkaca-kaca, entah itu pertanda kesedihan atau bahakan kebahagiaan.
tanpa menunggu lama ia langsung masuk ke dalam rumah, ya.. rumah itu rumah miliknya. tiba-tiba saja dua anak kecil laki-laki yang berumur sekita 7 tahun dn si perempuan yang berumur 4 tahun berlari menghampiri dan memanggil "mama". tanpa basa-basi si wanita pun langsung memeluk kedua anak tersebut. pelukan hangat seorang ibu kepada anaknya. ia langsung mengeluarkan bingkisan boneka kepada anak perempuannya. tak pelak sang anak girang bukan main. si wanita pun tersenyum bahagia. dan terhenti melihat tatapan kosong anak laki-lakinya. tatapan yang menunjukan bahwa ia juga ingin sesuatu seperti adiknya. si wanita sadar, ia terdiam sejenak dengan mata berkaca-kaca seraya berkata "sabar ya nak, uang gajian ibu bulan depan pasti ibu belikan mainan kesukaan kamu"  si ibu tak melnjutkan kata-katanya ketika anak laki-lakinya hanya tersenyum kemudian memeluk si wanita. ... wanita yang merupakan ibu yang sangat dicintainya.

Keindahan Itu Milik Mereka

Debu jalanan itu terhempas begitu saja oleh sebuah sepeda motor vespa. Vespa kusam yang tak terawat. Aku terpana sejenak, bukan karena si vespa. Tapi lebih karena melihat sang pengendara tertawa gembira. Ah, aku tidak bisa mewajarkan begitu saja jika melihat ia mengenakan kaos yg telah lusuh, dan jeans yg kumal.
Tawa itu seharusnya tawa milik seseorang yg mengendarai honda jazz atau range rover sport dengan balutan kemewahan di dalamnya, bukan seorang pengendara vespa jadul, dengan pakaian kumal. Hal tersebut memaksaku untuk memarkir motor di sisi jalan, entah kenapa tiba-tiba saja kulakukan hal tersebut.
...
tanpa mengalihkan perhatian sedikitpun dari si pengendara vespa.
dan Tiba-tiba saja bibir ku ini tersenyum, ya. . Tersenyum begitu saja saat melihat wanita yang membonceng menyamping dengan tangan yg melingkar di perut si pengendara vespa kumal. Tangan mulus tersebut mencengkran dengan sangat erat tanpa sdikitpun keraguan. Tangan putih mulus dengan potongan kuku rapih, benar-benar menunjukan keanggunan seorang wanita, terlebih saat ia menumpangkan kaki kiri di atas kanannya dan membiarkan angin menyibakkan jilbab biru dengan hiasan motif bunga.
Ia tersenyum ringan, membiarkan lesung pipit nya merekah sambil tetap merangkulkan tangan di pelukan si pengendara vespa.
ah, aku bisa melihat dengan jelas senyum itu menunjukan kebahagaiaan yg sama dengan senyum si pria pengendara vespa.
...
Senyum mereka itu. . .Senyum yang mengalir begitu saja, . Dan dekapan tangan itu, dekapan tangan penuh kepercayaan.. Sebuah alunan cinta di atas vespa yang menyibakan debu jalanan, membuat iri bunga yg berguguran di musim gugur. Membuat sang daun merasa malu pada ranting-ranting yang rapuh. . .
Dan jika memang begitu, aku tidak bisa mengelak untuk ikut tersenyum, dan yakin. . Bahwa keindahan ini milik mereka yang penuh ketulusan
:)

Jumat, 30 Maret 2012

hujan temaram dihatiku

Jika memang untuk bisa duduk disampingmu adalah harus mendengarmu bercerita tentang dia. Aku rela, sungguh aku rela. Aku relakan hati ku ini enyah sejenak. Hanya untuk bisa duduk disampingmu. Gunakanlah bahuku, tolong gunakanlah. Walaupun kau basahi untuk menangisi dia yang belum tentu menangisi.
jangan khawatir, aku bisa pura-pura tidak mencintaimu, walaupun aku yakin kau tidak bisa pura-pura mencintaiku bahkan hanya untuk sekadar bersandar di bahuku. Aku tahu senyum tulus yg kuberikan ini, mungkin senyum yg sama seperti yang kau berikan padanya. Senyum penuh ketulusan diantara dua rona pipi merah. Senyum penuh harapan. Sama seperti senyum ku padamu. Penuh harapan, harapan yang tak tahu diri. Tapi, ingatlah aku selalu menunggu kau berbalik menatapku saat dia membuatmu menangis. Ya. . . Lakukanlah saja, aku rela menjadi orang yg melihat wajahmu saat kau menangis, dan harus melihat punggungmu yang memunggungiku saat kau bahagia bersama dia.Kau yang sekarang sedang menunggu pesan singkat "selamat pagi" dari dirinya.
Sedangkan aq disini berharap kau membaca pesan "selamat malam" ku di malam lalu. Jauh sebelum kau memejamkan mata.
...
dulu aku merasa kau lebih awal dari pagi, namun kini aku sadari. Aku telah salah, kau tak sekedar lebih awal dari pagi. Tapi bahkan kau lebih awal awal dari mimpi.
Namun apalah daya, aku hanyalah orang lemah. Orang yang tidak bisa menahan rindu ku sndiri. Ya,. Saat ini Aku terlalu lemah untuk merindukanmu yang saat ini sedang merindukannya.